Makassar, Sulawesi Selatan,
Indonesia
Selamat datang di dunia pendidikan,, karena belajar
itu indah
MINGGU, 23 OKTOBER 2011
BAB I
PENDAHULUAN
1. Bangsa Aves
Meskipun burung berdarah panas, ia
berkerabat dekat dengan reptil. Bersama kerabatnya terdekat, suku Crocodylidae
alias keluarga buaya, burung membentuk kelompok hewan yang disebut Archosauria.
Diperkirakan burung berkembang dari
sejenis reptil di masa lalu, yang memendek cakar depannya dan tumbuh bulu-bulu
yang khusus di badannya. Pada awalnya, sayap primitif yang merupakan
perkembangan dari cakar depan itu belum dapat digunakan untuk sungguh-sungguh
terbang, dan hanya membantunya untuk bisa melayang dari suatu ketinggian ke
tempat yang lebih rendah.
Burung masa kini telah berkembang
sedemikian rupa sehingga terspesialisasi untuk terbang jauh, dengan
perkecualian pada beberapa jenis yang primitif. Bulu-bulunya, terutama di
sayap, telah tumbuh semakin lebar, ringan, kuat dan bersusun rapat. Bulu-bulu
ini juga bersusun demikian rupa sehingga mampu menolak air, dan memelihara
tubuh burung tetap hangat di tengah udara dingin. Tulang belulangnya menjadi
semakin ringan karena adanya rongga-rongga udara di dalamnya, namun tetap kuat
menopang tubuh. Tulang dadanya tumbuh membesar dan memipih, sebagai tempat
perlekatan otot-otot terbang yang kuat. Gigi-giginya menghilang, digantikan
oleh paruh ringan dari zat tanduk.
Kesemuanya itu menjadikan burung
menjadi lebih mudah dan lebih pandai terbang, dan mampu mengunjungi berbagai
macam habitat di muka bumi. Ratusan jenis burung dapat ditemukan di hutan-hutan
tropis, mereka menghuni hutan-hutan ini dari tepi pantai hingga ke
puncak-puncak pegunungan. Burung juga ditemukan di rawa-rawa, padang rumput,
pesisir pantai, tengah lautan, gua-gua batu, perkotaan, dan wilayah kutub.
Masing-masing jenis beradaptasi dengan lingkungan hidup dan makanan utamanya.
Maka dikenal berbagai jenis burung
yang berbeda-beda warna dan bentuknya. Ada yang warnanya cerah cemerlang atau
hitam legam, yang hijau daun, coklat gelap atau burik untuk menyamar, dan
lain-lain. Ada yang memiliki paruh kuat untuk menyobek daging, mengerkah biji
buah yang keras, runcing untuk menombak ikan, pipih untuk menyaring lumpur,
lebar untuk menangkap serangga terbang, atau kecil panjang untuk mengisap
nektar. Ada yang memiliki cakar tajam untuk mencengkeram mangsa, cakar pemanjat
pohon, cakar penggali tanah dan serasah, cakar berselaput untuk berenang, cakar
kuat untuk berlari dan merobek perut musuhnya.
Burung berkembang biak dengan bertelur.
Telur burung mirip telur reptil, hanya cangkangnya lebih keras karena berkapur.
Beberapa jenis burung seperti burung maleo dan burung gosong, menimbun telurnya
di tanah pasir yang bercampur serasah, tanah pasir pantai yang panas, atau di
dekat sumber air panas. Alih-alih mengerami, burung-burung ini membiarkan panas
alami dari daun-daun membusuk, panas matahari, atau panas bumi menetaskan
telur-telur itu; persis seperti yang dilakukan kebanyakan reptil.
Akan tetapi kebanyakan burung
membuat sarang, dan menetaskan telurnya dengan mengeraminya di sarangnya itu.
Sarang bisa dibuat secara sederhana dari tumpukan rumput, ranting, atau batu;
atau sekedar kaisan di tanah berpasir agar sedikit melekuk, sehingga telur yang
diletakkan tidak mudah terguling. Namun ada pula jenis-jenis burung yang
membuat sarangnya secara rumit dan indah, atau unik, seperti jenis-jenis manyar
alias tempua, rangkong, walet, dan namdur.
Anak-anak burung yang baru menetas
umumnya masih lemah, sehingga harus dihangatkan dan disuapi makanan oleh
induknya. Kecuali pada jenis-jenis burung gosong, di mana anak-anak burung itu
hidup mandiri dalam mencari makanan dan perlindungan. Anak burung gosong bisa
segera berlari beberapa waktu setelah menetas, bahkan ada pula yang sudah mampu
terbang.
Burung telah memberikan manfaat luar
biasa dalam kehidupan manusia. Beberapa jenis burung, seperti ayam, kalkun,
angsa dan bebek telah didomestikasi sejak lama dan merupakan sumber protein
yang penting; daging maupun telurnya.
Di samping itu, orang juga memelihara
burung untuk kesenangan dan perlombaan. Contohnya adalah burung-burung merpati,
perkutut, murai batu dan lain-lain. Burung-burung elang kerap dipelihara pula
untuk gengsi, gagah-gagahan, dan untuk olahraga berburu. Banyak jenis burung
telah semakin langka di alam, karena diburu manusia untuk kepentingan
perdagangan tersebut.
Selain itu populasi burung juga
terus menyusut karena rusaknya habitat burung akibat kegiatan manusia. Oleh
sebab itu beberapa banyak jenis burung kini telah dilindungi, baik oleh
peraturan internasional maupun oleh peraturan Indonesia. Beberapa suaka alam
dan taman nasional juga dibangun untuk melindungi burung-burung tersebut di
Indonesia. Yang menyenangkan, beberapa tahun belakangan ini telah tumbuh
kegiatan pengamatan burung (birdwatching) di kalangan pemuda dan pelajar.
Kegiatan yang menumbuhkan kekaguman dan kecintaan pada jenis-jenis burung yang
terbang bebas di alam ini, sekaligus merintis kecakapan meneliti alam terutama
kehidupan burung di kalangan generasi muda tersebut.
2. Burung
Merpati
|
Nama Indonesia
|
: Merpati
|
|
Nama Inggris
|
: Rock Pigeon,
|
|
Nama Latin
|
: Calumba livia
|
|
Klasifikasi
|
: Ordo Columbiformes, Familia
Columbidae
|
Bulu berwarna coklat, abu-abu atau
merah muda dengan bercak-bercak kontras berwarna lebih cerah. Sayap dan ekornya
menunjukkan banyak variasi dan bentuk. Paruh kecil dan disebelah atas
terdapat tonjolan daging yang salah yang pada beberapa spesies membesar.
Tubuhnya gempal,lebih pendek, kepala kecil, tungkai pendek. Semua burung dara
peliharaan merupakan keturunan burung dara karang Eropa. Pada species liarnya
bersarang di tebing punggung karang, sehingga keturunannya yang dikotapun
bersarang di gedung bertingkat. Burung ini mempunyai dua jenis pekikan, yaitu
pekikan pemikat dan pekikan pameran. Di Kebun Binatang Gembira Loka
terdapat varitas merpati yaitu merpati pos dan merpati keriting.
Hidup secara kelompok. Burung ini
minum dengan gerakan menghisap. Suatu hal yang tidak lazim pada burung yakni
dengan cara mencelupkan paruh ke air dan menyedotnya dengan jalan membungkam
tembolok. Burung jantan sering kali melakukan peragaan terbang untuk memikat
betina dengan terbang tinggi berputar-putar lalu menukik pulang ke tempat
asalnya dengan sayap dan ekor terentang.
Bertelur di sarang, lubang di pohon
atau di bangunan-bangunan. Jumlah telor dua dan tak berbercak. Pengeraman
dilakukan secara bersama- sama oleh burung jantan dan betina. Pengeraman selama
2,5 minggu.
Pakan burung ini sangat bervariasi
mencakup buah-buahan semak, kacang-kacangan, biji pohon oak, apel, padi-padian,
putik tanaman dan daun-daunan. Di Kebun Binatang Gembira Loka burung merpati
diberi pakan jagung pipil dan konsentrat 521.
Tebing, mengalami adaptasi hidup di
bangunan-bangunan. Tersebar di seluruh penjuru dunia. Di Kalimantan koloninya
terdapat di Banjarmasin, Kuching, Kinabalu dan Samarinda.
BAB II
SISTEM REPRODUKSI MERPATI
A. Sistem
Genitalia Jantan
1. Testis
berjumlah sepasang, berbentuk oval atau bulat, berwarna putih, bagian
permukannya licin, terletak di sebelah ventral lobus penis bagian paling
kranial.Alat penggantung testes adalah mesorchium. Pada musim kawin ukurannya
membesar. Di sinilah dibuat dan disimpan spermatozoa.
2. Saluran
reproduksi. Tubulus mesonefrus membentuk duktus aferen dan epididimis. Duktus
wolf bergelung dan membentuk duktus deferen. Duktus deferen bagian distal yang
sangat panjang membentuk sebuah gelendong yang disebut glomere. Dekat glomere
bagian posterior dari duktus aferen berdilatasi membentuk duktus ampula yang bermuara
di kloaka sebagai duktus ejakulatori.duktus eferen berhubungan dengan
epididimis yang kecil kemudian menuju duktud deferen. Duktus deferen tidak ada
hubungannya dengan ureter ketika masuk kloaka.
Epididimis berjumlah sepasang,
berukuran kecil terletak pada sisi dorsal testis, epididimis ini adalah berupa
saluran yang di lewati sperma dan menuju ke ductus deferens.
Ductus deferens berjumlah
sepasang berfungsi sebagai saluran spermatozoa dari testis ke penis. Pada burung muda tampak halus, sedang pada burung tua nampak
berkelok-kelok berjalan ke caudal menyilangi ureter kemudian bermuara pada
urodaeum.
Vesicula seminalis yang merupakan gelembung kecil
bersifat kelenjar sebagai tempat penampungan sementara sperma sebelum
dituangkan melalui papil yang terletak pada cloaka pada beberapa spesies
memiliki penis sebagai alat untuk menuangkan sperma ke kloaka hewan betina.
B. Sistem
Genitalia Betina
1. Ovarium.
Ovarium yang berkembang hanya yang kiri, dan terletak di bagian dorsal rongga
abdomen. Ovarium kanan tidak tumbuh sempurna dan tetap kecil yang disebut
rudimenter. Ovarium dilekati oleh suatu corong penerima ovum yang dilanjutkan
oleh oviduk. Ujung oviduk membesar menjadi uterus yang bermuara pada kloaka.
2. Saluran
reproduksi, oviduk yang berkembang hanya yang sebelah kiri, bentuknya panjang,
bergulung, dilekatkan pada dinding tubuh oleh mesosilfing dan dibagi menjadi
beberapa bagian; bagian anterior adalah infundibulumyang punya bagian terbuka
yang mengarah ke rongga selom sebagai ostium yang dikelilingi oleh
fimbre-fimbre. Di posteriornya adalah magnum yang akan mensekresikan albumin,
selanjutnya istmus yang mensekresikan membrane sel telur dalam dan luar. Uterus
atau shell gland untuk menghasilkan cangkang kapur.
Fungsi alat kelamin betina :
(1) Ovarium -->
menghasikan ovum
(2) Oviduk -->
saluran ovum
(3) Tuba fallopi
--> tempat pembuahan
(4) Uterus / rahim
--> perkembangbiakan embrio
(5) Plasenta -->
saluran nutrisi, zat sisa, gas antara embrio dg induknya
(6) Amnion --> menjaga
embrio dari goncangan
(7) Vagina -->
tempat kopulasi dan saluran pengeluaran bayi
(8) Kloaka -->
saluran yang berfungsi selain sebagai tempat ekskresi juga sebagai tempat
perkembangbiakan
C. Cara Memikat
Pasangannya
Jenis-jenis burung umumnya memiliki
ritual berpasangan masing-masing. Ritual ini adalah proses untuk mencari dan
memikat pasangan, biasanya dilakukan oleh burung jantan. Burung merpati jantan
biasanya mengeluarkan suara khas dan melakukan semacam tarian untuk memikat si
betina, memamerkan sarang setengah jadi yang dibuatnya. Bila si betina
berkenan, sarang itu akan dilanjutkan pembuatannya oleh burung jantan hingga
sempurna; akan tetapi bila betinanya tidak berkenan, sarang itu akan dibuang
atau ditinggalkannya.
D. Proses
Fertilisasi
Fertilisasi pada merpati betina
merupakan reproduksi internal artinya bahwa reproduksi terletak di dalam tubuh.
Sistemnya disebut sistem duktus yang berupa saluran yang memiliki diameter
hampir seragam dengan suatu perluasan tunggal unilateral pada kloaka. Merpati
merupakan hewan ovipar yaitu hewan yang berkembang biak dengan bertelur.
Perkawinan pada merpati dilakukan dengan cara kopulasi. Hal ini dilakukan
dengan cara saling menempelkan kloaka. Setelah sperma dan ovum bertemu dan
terjadi fertilisasi maka tahap selanjutnya adalah akan terbentuk telur yang
terjadi di oviduk. Tahap pertama adalah terbentuknya kalaza yaitu suatu
bangunan yang tersusun dari dia tali mirip ranting yang bergulung memanjang
dari kuning telur sampai ke kutub-kutub telur. Setelah itu ditambahkan putih
telur( albumen) disekitar kuning telur. Setelah itu maka telur akan mendapatkan
selaput kerabang pada uterus. Setelah telur sempurna maka telur akan
dikeluarkan melalui kloaka.
Fungsi bagian-bagian telur burung merpati :
(1) Titik
embrio, berfungsi sebagai bagian yang akan berkembang menjadi embrio
(2) Kuning
telur, berfungsi sebagai cadangan makanan embrio
(3) Kalaza,
berfungsi menjaga goncangan embrio
(4) Putih
telur, berfungsi menjaga embrio dari goncangan
(5) Rongga
udara, berfungsisebagai cadangan oksigen bagi embrio
E. Penetasan
Telur
Telur yang dikeluarkan tidak
langsung menetas, tetapi mengalami masa inkubasi selama 16-18 hari. Telur dapat
menetas apabila dierami. Pengeraman dilakukan secara bersama- sama oleh burung
jantan dan betina. Suhu tubuh induk akan membantu pertumbuhan embrio menjadi
anak burung. Anak burung menetas dengan memecahkan kulit telur dengan
menggunakan paruhnya. Anak burung yang baru menetas masih tertutup matanya dan
belum dapat mencari makan sendiri, serta perlu dibesarkan dalam sarang. Burung
muda yang baru menetas berada dalam kondisi sangat lemah, disebut kondisi
altrisal. Anak merpati yang baru menetas sedikit sekali bulu kapasnya. Merpati
muda dapat terbang setelah 4 minggu kemudian.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kelompok burung merpati merupakan
hewan ovipar. Hal ini dilakukan dengan cara saling menempelkan kloaka. Pada burung
betina hanya ada satu ovarium, yaitu ovarium kiri. Ovarium kanan tidak tumbuh
sempurna dan tetap kecil yang disebut rudimenter. Ovarium dilekati oleh suatu
corong penerima ovum yang dilanjutkan oleh oviduk. Ujung oviduk membesar
menjadi uterus yang bermuara pada kloaka. Pada burung jantan terdapat sepasang
testis yang berhimpit dengan ureter dan bermuara di kloaka. Fertilisasi
akan berlangsung di daerah ujung oviduk pada saat sperma masuk ke dalam oviduk.
Ovum yang telah dibuahi akan bergerak mendekati kloaka. Saat perjalanan menuju
kloaka di daerah oviduk, ovum yang telah dibuahi sperma akan dikelilingi oleh
materi cangkang berupa zat kapur. Telur dapat menetas apabila dierami
oleh induknya. Suhu tubuh induk akan membantu pertumbuhan embrio menjadi anak
burung. Anak burung menetas dengan memecah kulit telur dengan menggunakan
paruhnya. Anak burung yang baru menetas masih tertutup matanya dan belum dapat
mencari makan sendiri, serta perlu dibesarkan dalam sarang
B. Saran
1. Saran kami
kepada pembaca, agar lebih memperkaya ilmu pengetahuannya, tidak hanya dengan
mengandalkan makalah ini tetapi juga dari buku-buku lain
2. Makalah ini
dapat di jadikan sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan yang memberi
sumbangsi bagi dunia pendidikan pada umumnya dan biologi pada khususnya
1.

terimakasih
atas materi reproduksi merpatinya!!!. sangat membantu. Boleh minta daftr pustakanya?
terimaksih sebelumnya!
TOTAL TAYANGAN LAMAN
ARSIP BLOG
PENGIKUT
